LAPORAN SISTEM INDRA FARMASI MANDALA WALUYA KENDARI
LAPORAN SISTEM INDRA
OLEH:
VITA SASTIKA
PROGRAM
STUDI S1 FARMASI
STIKES
MANDALA WALUYA
KENDARI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Alat indra adalah
organ yang berfungsi menerima jenis rangsangan tetentu. Setiap individu di
ciptakan dengan sistem indra yang di gunakan yang lengkap untuk mampu
berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat di peroleh melalui
indra, yaitu mata telinga, hidung , lidah dan kulit. Informasi tersebut di
hantarkan ke otak untuk di olah dan di artikan sehngga individu dapat melihat,
mendengar, mencium, mengecap dan meraba.
Jadi, masing-masingalat indra memiliki kepekaan terhadap rangsangan dari
luar yang di sebut reseptor (setiadi, 2007).
Alat indra kita
memiliki bagian yang dapat menerima rangsangan berupa ujung-ujung saraf
sensorik atau sel-sel reseptor. Satu macam reseptor hanya mampu menanggapi satu
macam rangsangan, rangsangan yang di terima oleh sel reseptor terlebih dahulu di ubsh menjadi
inplus saraf dan kemudian di antarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut
saraf sensorik. Di dalam pusat susunan saraf, inplus saraf tersebut di olah dan
di artikan sehingga individu mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita.
Setelah itu, otak memerintahkan jenis tanggapan yang akan di berikan. Perintah
dari otak di sampaikan ke otot atau kelenjar sebagai reseptor yang bertugas
menberi tanggapan terhadap rangsangan tersebut (setiadi 2007).
Tubuh manusia
mempunyai indra yang berfungsi sebagai receptor atau menerima rangsangan dari
lingkungan sekitar. Manusia mempunyai 5 macam indra yaitu indra penglihata,
peraba, pendengaran penciuman dan pengecap.
I.2 Maksud
Maksud dari praktikum kali ini adalah
mengetahui anatomi dan fisiologi sistem indra pada manusia.
I.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui anatomi
dan fisiologi sistem indra serta mengetahui fungsi masing-masing sistem indra
I.4 Prinsip percobaan
Prinsip percobaan pada praktikum kali ini
adalah dengan melakukan pengamatan sistem indra pada manusia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Landasn Teori
a.
Indra penglihatan , mata adalah organ penglihatan yang menerima
rangasangan berupa cahaya. Bola mata terletak di dalam rongga mata dan
beralaskan lapisan lemak. Bola mata dapat bergerak dan di arahkan suatu arah
dengan bantuan tiga otot penggerak mata.
b.
Indra pendengaran, telinga merupakan alat indra yang peka terhadap
rangsangan berupa gelombang suara, telinga manusia mampu mendengar suara, selain sebagai alat pendengaran
telinga juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh manusia.
c.
Indra peraba, kulit adalah alat indra yang peka terhadap rangsangan
berupa sentuhan, tekanan, panas, dingin dan nyeri atau sakit.
Macam-macam reseptor berdasarkan sumbernya :
a.
Ekstero resptor-eseptor , yang mampu menerima rangsngan dari luar
b.
Intero, reseptor indra perasa yang dapat
merasakan haus, lapar dan lelah
Macam –macam respto berdasarkan jenis
rangsangan :
a.
Kemoresptor, alat indra yang merespon terhadap rangsangan kimia yaitu
indra pembau(hidung) dan indra pengecap (lidah)
b.
Nosireseptor merupakan reseptor yang mendeteksi kerusakan pada jaringan
baik kerusakan fisisik maupun kimia .
c.
Fotoreseptor merupakan penerima rangsangan cahaya
d.
Mekonoreseptor merupakan alat indera yang merespon terhadap rangsangan
gaya berat .
II.2 Uraian Bahan
1.
Jahe
Kingdom
: Plantae
Subkingdom
: Tracheobionta
Super Divisio
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Subkelas
: Commelinidae
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae
Genus :
Cymbopogon
Spesies :
Cymbopogon nardus
2.
Sereh
Kingdom :
Plantae
Sub kingdom :traceobionta
Super division :spermathopita
Divisi :
magnoliopita
Kelas :liliopsida
Subkelas :comelinidae
Ordo :poales
Family :poaceae
Genus :cymbopogen
Spesies :cimbopogen
nardus
3.
Garam
Nama latin :natrit
chlorodium
Pemerian :serbuk
hablur tau tidak berwarna , putih tidak berbau , rasa asin
Kelarutan :larut
dalam 2,8 bagian air mendidih
Keasaman :larutan
5 gram dalam dalam 50 ml air bebas karbondioksida
4.
Gula
Nama latin :glucosum
Pemerian :hablur
tidak berwarna, butiran putih tidak berbau , rasa manis
Kelarutan :mudah
larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1
Aat dan Bahan
a.
Alat
-
Martil reflex
-
Kapas
b.
Bahan
-
Aquades
-
Jahe
-
Asam
-
Gula pasir
-
Kopi
-
Garam
-
Bawang putih
-
Merica
-
Serai
III.2
Prosedur Kerja
a.
Indra peraba
1.
Reflex lutut
- Disiapkan alat dan probandus
- Probandus duduk bertumpang kaki (kaki kanan
diatas) dan mengalihkan perhatianya kesekeliling
- Penguji memukul ligamentum patellae kaki
kanan probandus (kaki kanan yang bertumpang diatas) dengan martil reflex
- Diamati gerak reflex yang terjadi, dan
dicatat hasilnya
2.
Reflex tumit
- Disiapkan alat dan probandus
- Probandus berdiri dengan kaki kiri
dibengkokan dan diletakkan pada kursi probandus mengalihkan perhatianya
disekeliling
- Penguji memukul tendo Achilles kaki kiri
probandus (yang dibengkokan) dengan martil reflex.
- Diamati dan dicatat gerak reflex yang
terjadi.
3.
Reflex bisep
- Disiapkan alat dan probandus
- Lengan kanan probandus diluruskan secara
pasif dan diletakkan diatas meja. Probandus mengalihkan perhatianya
kesekelilingnya
- Penguji memukul tendo. Bisep brakil lengan
tersebut dengan martil reflex
- Diamati dan dicatat gerak reflex yang terjadi
4.
Reflex trisep
- Disiapkan alat dan probandus
- Lengan kiri probandus dibengkokan secara
pasif. Dialihkan perhatian probandus kesekelilingnya
- Penguji memukul tendo trisep brakil lengan
tersebut dengan martil reflex
- Diamati dan dicatat gerak reflex yang
terjadi.
b.
Indra penglihatan
-
Disiapkan alat dan probandus
-
Probandus membuka kedua matanya dan mengarahkan pandangannya dengan
melirik
-
Penguji mengagetkan mata probandus dengan benda dengan jarak 5cm dari
bola mata
-
Diamati dan dicatat gerak reflex yang terjadi.
c.
Indra perasa
- Disiapkan alat dan bahan
- Ditutup mata probandus
- Diletakan bahan pada lidah probandus dibagian
lidah yang akan diujikan yaitu pangkal lidah, tepi tengah lidah, tepi depan
lidah, dan ujung depan lidah.
- Probandus menebak bahan tersebut
- Dicatat hasil yang diperoleh.
d.
Indra pembau
- Disiapkan alat dan bahan
- Ditutup mata probandus
- Didekatkan bahan pada hidung probandus
- Probandus menebak bahan tersebut
- Dicatat hasil yang diperoleh.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
a.
Indra pengejap
No.
|
Nama Probandus
|
Positif
|
Negative
|
1.
|
Lucky triwijayanto
|
ü
|
-
|
2.
|
Osin hamudin
|
ü
|
-
|
Keterangan:
Kedua
probandus dikatakan normal karena hasil dari pengamatan menunjukan positif.
b.
Indra pengecap
No.
|
Nama probandus
|
Sampel
|
ujung
|
Tepi depan
|
Tepi tengah
|
pangkal
|
1.
|
Lucky triwijayanto
|
Gula
|
ü
|
|||
Asam
|
ü
|
|||||
Garam
|
ü
|
|||||
Kopi
|
ü
|
|||||
2.
|
Wiwid anrainy
|
Gula
|
ü
|
|||
Asam
|
ü
|
|||||
Garam
|
ü
|
|||||
kopi
|
ü
|
Keterangan:
Pada
tabel kedua probandus menunjukan hasil pengecapan lidah ceklist menunjukan
sampel yang tepat, jadi probandus dikatakan normal.
c.
Indra pembau
No.
|
Nama probandus
|
Sampel
|
positif
|
Negative
|
1.
|
Dewi yulan pae
|
Serai
|
ü
|
-
|
Jahe
|
ü
|
-
|
||
Bawang Putih
|
ü
|
-
|
||
Merica
|
ü
|
-
|
Keterangan:
Pada
tabel diatas sampel pada probandus menunjukan ceklist positif jadi probandus
dikatakan normal.
d.
Indra peraba
No.
|
Nama probandus
|
Trisep
|
Bisep
|
Lutut
|
Tumit
|
1.
|
Dwi cahyo iswantiro
|
ü
|
ü
|
ü
|
-
|
2.
|
Zul faidal
|
ü
|
ü
|
ü
|
ü
|
3.
|
Hurdian triningsih sinapoy
|
ü
|
ü
|
ü
|
ü
|
4.
|
Ririn iswandari polingay
|
ü
|
ü
|
-
|
ü
|
Keterangan:
Pada tabel diatas terdapat 4 probandus
dimana pada pada probandus pertama dwi cahyo iswantoro pada test tumit tidak
terjadi refleks, pada probandus ke 2 yaitu zul faidal terjadi refleks pada
keempat percobaan, sama halnya pada probandus ketiga yaitu nurdian triningsih
sinapoy, dan probandus yang keempat ririn iswandari polingai tidak terjadi
refleks pada test lutut.
IV.2 Pembahasan
Pada
indra pengejap kedua probandus dikatakan normal karena hasil dari
pengamatan menunjukan positif. Pada indra pengecap
lidah pada tabel kedua probandus menunjukan hasil pengecapan lidah ceklist
menunjukan sampel yang tepat, jadi probandus dikatakan normal. Pada tabel indra pembau sampel pada probandus menunjukan
ceklist positif jadi probandus dikatakan normal.
Pada tabel
peraba terdapat 4 probandus dimana pada pada probandus pertama dwi cahyo
iswantoro pada test tumit tidak terjadi refleks, pada probandus ke 2 yaitu zul
faidal terjadi refleks pada keempat percobaan, sama halnya pada probandus ketiga
yaitu nurdian triningsih sinapoy, dan probandus yang keempat ririn iswandari
polingai tidak terjadi refleks pada test lutut.
Mata mempunyai reseptor
khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut
mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata,
kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata.
a.
Bagian-bagian mata:
1. Bola mata
Bola mata dikelilingi oleh tiga lapis dinding. Ketiga
lapis dinding ini, dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
Ø Sklera, merupakan jaringan
ikat dengan serat yang kuat, berwarna putih buram (tidak tembus cahaya),
kecuali di bagian depan bersifat transparan yang disebut kornea. Konjungtiva adalah lapisan
transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi
melindungi bola mata dari gangguan.
Ø Koroid, berwarna coklat
kehitaman sampai hitam. Koroid merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh
darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada
koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan,
koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang
berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui
pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran
pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang
berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris
akan mengatur cembung pipihnya lensa.
Ø Retina, merupakan lapisan yang
peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan
sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai
ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan
daerah ini disebut bintik buta.
Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan
rongga bola mata terbagi dua, yaitu bagian depan yang terletak di depan lensa
berisi carian yang disebut aqueous
humor, dan bagian belakang yang terletak di belakang lensa berisi vitreous humor. Kedua cairan tersebut
berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar.
2. Kotak mata
Kotak mata pada tengkorak berfungsi
melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea
dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap
iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang
konjungtiva disebut konjungtivitis. Untuk
mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari
kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang
terdapat di bawah alis. Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam
jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya
mikro organisme ke dalam mata.
3. Otot mata
Ada enam otot mata yang
berfungsi memegang sklera. Empat di antaranya disebut otot rektus (rektus inferior, rektus superior, rektus
eksternal, dan rektus internal). Otot rektus berfungsi menggerakkan bola
mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (inferior).
b.
Cara kerja mata
Cara kerja mata manusia
pada dasarnya sama dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa. Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di
retina mengalami pembiasan lima kali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea,
aqueus humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di
kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning,
yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar.
Ada dua macam sel
reseptor pada retina, yaitu sel
kerucut (sel konus) dan sel
batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang
berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar,
terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen
pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari
sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna,
makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah
bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Pigmen ungu yang terdapat
pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu
suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar
matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan
kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali
memerlukan waktu yang disebut adaptasi
gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit
untuk melihat.
Pigmen lembayung dari
sel konus merupakan senyawa iodopsin yang
merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu
sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel
konus tersebut, mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel
konus akan menyebabkan buta warna.
Jarak terdekat yang
dapat dilihat dengan jelas disebut titik
dekat (punctum proximum). Jarak terjauh saat benda tampak jelas
tanpa kontraksi disebut titik jauh (punctum
remotum). Jika kita sangat dekat dengan obyek maka cahaya yang masuk
ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita sangat jauh dari obyek,
maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil sehingga sinar tampak
paralel. Baik sinar dari obyek yang jauh maupun yang dekat harus direfraksikan
(dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada retina agar obyek terlihat
jelas. Pembiasan
cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut pemfokusan.
Cahaya dibiaskan jika
melewati konjungtiva kornea. Cahaya dari obyek yang dekat membutuhkan lebih
banyak pembiasan untuk pemfokusan dibandingkan obyek yang jauh. Mata mamalia
mampu mengubah derajat pembiasan dengan cara mengubah bentuk lensa. Cahaya
dari obyek yang jauh difokuskan oleh lensa tipis panjang, sedangkan cahaya
dari obyek yang dekat difokuskan dengan lensa yang tebal dan pendek.
Perubahan bentuk lensa ini akibat kerja otot siliari. Saat melihat dekat,
otot siliari berkontraksi sehingga memendekkan apertura yang mengelilingi
lensa. Sebagai akibatnya lensa menebal dan pendek. Saat melihat jauh, otot
siliari relaksasi sehingga apertura yang mengelilingi lensa membesar dan
tegangan ligamen suspensor bertambah. Sebagai akibatnya ligamen suspensor mendorong
lensa sehingga lensa memanjang dan pipih. Proses pemfokusan obyek pada jarak
yang berbeda-berda disebut daya
akomodasi.
|
a. Akomodasi
mata saat
melihat jauh b. Akomodasi mata saat melihat dekat |
c.
Kelainan pada mata
1.
Presbiopi
Presbiopi adalah penyakit mata karena proses penuaan, disebut juga mata
tua. Pada anak-anak, titik dekat mata bisa sangat pendek, kira-kira 9 cm untuk
anak umur 11 tahun. Makin tua, jarak titik dekat makin panjang. Sekitar umur
40-50 tahun terjadi perubahan yang menyolok, yaitu titik dekat mata sampai 50
cm, oleh karena itu memerlukan pertolongan kaca mata untuk membaca berupa kaca
mata cembung (positif). Hal ini disebabkan karena elastisitas lensa berkurang.
Penderita presbiopi dapat dibantu dengan lensa rangkap.
2.
Hipermetropi
Hipermetropi atau mata jauh dapat terjadi pada anak-anak. Hipermetropi
disebabkan bola mata terlalu pendek sehingga bayang-bayang jatuh di belakang
retina. Penderita hipermetropi ini tidak dapat melihat
benda yang dekat atau biasa disebut rabun dekat.
3. Miopi
Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang
disebabkan oleh bola mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda
yang jaraknya jauh akan jatuh di depan retina. Pada penderita miopi ini orang
tidak dapat melihat benda yang jauh biasa disebut rabun jauh, mereka hanya
dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Untuk cacat seperti ini orang dapat
ditolong dengan lensa cekung (negatif). Miopi biasa terjadi pada anak-anak.
Gambar
Kelainan mata : (a) Miopi, (b) Hipermetropi
4.
Astigmatisma
Astigmatisma merupakan kelainan yang disebabkan bola mata atau
permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga fokusnya
tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang sama. Untuk menolong
orang yang cacat seperti ini dibuat lensa silindris, yaitu yang mempunyai
beberapa fokus.
5. Katarak
Katarak adalah cacat mata, yaitu buramnya dan berkurang elastisitasnya lensa
mata. Hal ini terjadi karena adanya pengapuran pada lensa. Pada orang yang
terkena katarak pandangan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang.
6. Imeralopi
Imeralopi
atau rabun senja adalah kelainan yang menyebabkan penderita menjadi rabun pada
senja hari.
7. Xeroftalxni
Xeroftalxni
adalah kelainan pada mata, yaiut kornea menjadi kering dan bersisik.
8. Keratomealasi
Keratomealasi
adalah kelainan pada mata yaitu kornea menjadi putih dan rusak.
2.1. Indera Pendengar (Telinga) (Anonymus.
2012)
Telinga
merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara dan
juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Suara adalah bentuk
energi yang bergerak melewati udara, air, atau benda lainnya, dalam sebuah
gelombang. Walaupun telinga yang mendeteksi suara, fungsi pengenalan dan
interpretasi dilakukan di otak dan sistem saraf pusat. Rangsangan suara disampaikan ke otak
melalui saraf yang menyambungkan telinga dan otak (nervus
vestibulokoklearis).
Ada tiga bagian utama
dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga
dalam. Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah
meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada
telinga dalam akan menerima rangsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke
otak untuk diolah.
a.
Bagian-bagian telinga
Gambar Struktur telinga pada manusia
1. Telinga luar
Telinga luar meliputi daun telinga (pinna), liang telinga (meatus
auditorius eksternus), dan saluran telinga luar. Bagian daun telinga
berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya
menuju gendang telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar
berfungsi untuk menangkap suara dan bagian terpenting adalah liang telinga.
Saluran ini merupakan hasil susunan tulang rawan yang dilapisi kulit tipis. Di
dalam saluran ini terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan zat seperti lilin yang
disebut serumen atau kotoran telinga. Bagian saluran yang
memproduksi sedikit serumen yang memiliki rambut. Pada ujung saluran terdapat
gendang telinga yang meneruskan suara ke telinga dalam.
Daun telinga manusia
mempunyai bentuk yang khas, tetapi bentuk ini kurang mendukung fungsinya
sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Bentuk daun telinga yang sangat
sesuai dengan fungsinya adalah daun telinga pada anjing dan kucing, yaitu tegak
dan membentuk saluran menuju gendang telinga.
2. Telinga tengah
Bagian ini merupakan
rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Telinga tengah meliputi gendang telinga, 3
tulang pendengaran yaitu martir (malleus) menempel pada gendang
telinga, tulang
landasan (incus), kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum
sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang, dan tulang sanggurdi (stapes) yang berhubungan dengan jendela oval. Muara tuba
eustachi yang menghubungkan ke faring juga berada di telinga tengah. Getaran
suara yang diterima oleh gendang
telinga
akan disampaikan ke tulang pendengaran. Masing-masing tulang pendengaran akan
menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang sanggurdi yang merupakan
tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea atau rumah siput.
3. Telinga dalam
Bagian ini mempunyai
susunan yang rumit, terdiri dari labirin tulang dan labirin membran. Ada lima
bagian utama dari labirin membran, yaitu:
Ø
Tiga saluran setengah lingkaran
Ø
Ampula
Ø
Utrikulus
Ø
Sakulus
Ø
Koklea atau rumah siput
Sakulus berhubungan
dengan utrikulus melalui saluran sempit. Tiga saluran setengah lingkaran,
ampula, utrikulus dan sakulus merupakan organ keseimbangan, dan keempatnya
terdapat di dalam rongga vestibulum dari labirin tulang.
Koklea mengandung organ Korti untuk pendengaran. Koklea
terdiri dari tiga saluran yang sejajar, yaitu: saluran vestibulum yang
berhubungan dengan jendela oval, saluran tengah dan saluran timpani yang
berhubungan dengan jendela bundar, dan saluran (kanal) yang dipisahkan satu
dengan lainnya oleh membran. Di antara saluran vestibulum dengan saluran tengah
terdapat membran Reissner, sedangkan
di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat membran basiler. Dalam saluran tengah
terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai membran tektorial yang paralel dengan membran basiler dan ada di
sepanjang koklea. Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran
basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial. Dasar dari sel
pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf
yang bergabung membentuk saraf pendengar. Bagian yang peka terhadap rangsang
bunyi ini disebut organ korti.
b.
Cara kerja telinga
Gelombang bunyi yang
masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan
diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur koklea
pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran
vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan
menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan
limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan
sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan
melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan
menggetarkan selaput-selaput basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke
atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial,
terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler
akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang
akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.
c.
Susunan dan cara kerja alat keseimbangan
Bagian dari alat vestibulum atau alat
keseimbangan berupa tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan
organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus clan
sakulus. Ujung dari setup saluran setengah lingkaran membesar dan disebut ampula
yang berisi reseptor, sedangkan pangkalnya berhubungan dengan utrikulus
yang menuju ke sakulus. Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan.
Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori
yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini
disebut kupula. Saluran semisirkular (saluran setengah lingkaran) peka
terhadap gerakan kepala. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus
terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang
melekat pada otolith, yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala
mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan
dikirim ke otak.
d.
Kelainan pada telinga
Telinga
merupakan salah satu organ yang penting. Sebagai organ tubuh yang lemah, telinga bisa
mengalami kelainan maupun terserang penyakit. Berikut beberapa penyakit
yang ada pada telinga:
1. Tuli
Tuli adalah
ketidakmampuan telinga untuk mendengarkan bunyi atau suara. Tuli dapat disebabkan
oleh adanya kerusakan pada gendang telinga, tersumbatnya ruang
telinga, atau rusaknya saraf pendengaran. Pada orang yang telah
berusia lanjut, ketulian biasanya disebabkan oleh kakunya gendang
telinga dan kurang baiknya
hubungan antar tulang pendengaran.
2. Congek
Congek adalah
penyakit telinga yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada bagian telinga
yang tersembunyi di tengah-tengah.
Infeksi ini disebabkan oleh bakteri.
3. Otitis eksterna
Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada
saluran telinga. Infeksi ini bisa
menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada
daerah tertentu sebagai bisul (furunkel). Otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang (swimmer's ear).
4. Perikondritis
Perikondritis adalah suatu infeksi pada tulang
rawan (kartilago) telinga luar. Perikondritis bisa terjadi akibat
cedera, gigitan serangga dan pemecahan bisul dengan sengaja. Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan
lapisan jaringan ikat di sekitarnya (perikondrium). Kadang nanah
menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago, dan menyebabkan kerusakan
pada kartilago dan pada akhirnya menyebabkan kelainan bentuk telinga. Meskipun bersifat merusak dan menahun, tetapi
perikondritis cenderung hanya menyebabkan gejala-gejala yang ringan.
5. Eksim
Eksim pada telinga merupakan suatu peradangan
kulit pada telinga luar dan saluran telinga, yang ditandai dengan gatal-gatal,
kemerahan, pengelupasan kulit, kulit yang pecah-pecah serta keluarnya cairan
dari telinga. Keadaan ini bisa menyebabkan infeksi pada telinga luar dan
saluran telinga.
6. Cidera
Cedera pada telinga luar (misalnya pukulan
tumpul) bisa menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium. Jika terjadi penimbunan darah di daerah
tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa
berwarna ungu kemerahan. Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa
menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan
bentuk telinga. Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol, yang sering ditemukan pada pegulat dan
petinju.
7. Tumor
Tumor
pada telinga bisa bersifat jinak atau ganas (kanker). Tumor yang jinak bisa
tumbuh di saluran telinga, menyebabkan penyumbatan dan penimbunan kotoran
telinga serta ketulian. Contoh dari tumor jinak pada saluran telinga adalah:
Ø
Kista sebasea
(kantong kecil yang terisi sekresi dari kulit)
Ø
Osteoma
(tumor tulang)
Ø
Keloid
(pertumbuhan dari jaringan ikat yang berlebihan setelah terjadinya cedera).
8. Kanker
Kanker sel
basal dan kanker sel skuamosa
seringkali tumbuh pada telinga luar setelah pemaparan sinar matahari yang lama
dan berulang-ulang. Pada stadium dini, bisa diatasi dengan pengangkatan kanker
atau terapi penyinaran. Pada stadium lanjut, mungkin perlu dilakukan
pengangkatan daerah telinga luar yang lebih luas. Jika kanker telah menyusup ke
kartilago, dilakukan pembedahan. Kanker sel basal dan sel skuamosa juga bisa
tumbuh di dalam atau menyebar ke saluran telinga.
2.2. Indera Peraba (Kulit) (Anonymus. 2012)
Kulit merupakan indra
peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan
tekanan. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis.
Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis.
Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat
epidermis. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot
dan tulang.
a. Bagian-bagian kulit
Kulit terdiri dari
lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada
lapisan epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis
tersusun atas empat lapis sel yaitu:
Ø
Stratum germinativum berfungsi membentuk
lapisan di sebelah atasnya.
Ø
Stratum granulosum yang berisi sedikit
keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel
dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin
menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan.
Ø
Stratum lusidum
merupakan lapisan yang transparan.
Ø
Stratum korneum merupakan
lapisan yang paling luar.
Gambar Penampang
kulit manusia beserta reseptor-reseptornya
Penyusun
utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang
berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur,
sehingga kulit dapat mengembang.
Stratum germinativum
mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar
rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan
dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap
pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau
merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam
dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi
bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.
b. Cara
Kerja Kulit
Rangsang
yang dapat diterima kulit berupa sentuhan panas, dingin, tekanan, dan nyeri. Ketika kulit
menerima rangsang, rangsang tersebut diterima oleh sel-sel reseptor. Selanjutnya, rangsang
akan diteruskan ke otak
melalui urat saraf. Oleh otak, rangsang akan diolah. Akibatnya, kita merasakan adanya suatu rangsang. Otak pun memerintahkan tubuh untuk menanggapi rangsang
tersebut.
c. Kelainan pada
kulit
Kulit
merupakan bagian tubuh terluar sehingga selalu berhubungan dengan lingkungan sekitar. Oleh
karena itu, kulit mudah terluka serta terserang jamur dan bibit penyakit lainnya.
Beberapa penyakit kulit yang
sering kita temui yaitu:
1.
Jerawat. Jerawat mudah menyerang kulit wajah,
leher, punggung, dan
dada. Penyakit ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon dan kulit yang kotor. Anak-anak yang
memasuki masa remaja serta
orang-orang yang memiiki jenis kulit berminyak sangat rentan terhadap jerawat.
2.
Panu. Panu disebabkan oleh jamur yang menempel di kulit. Panu tampak sebagai bercak atau bulatan putih di
kulit dan
disertai rasa gatal. Panu timbul karena penderita tidak menjaga kebersihan kulit.
3.
Kadas. Kadas nampak di kulit sebagai bulatan
putih bersisik. Pada setiap bulatan terdapat garis tepi yang jelas dengan kulit yang tidak terkena. Kadas juga
menyebabkan rasa gatal. Penyakit ini disebabkan oleh jamur.
4.
Skabies.
Skabies disebut pula “seven-year itch”. Penyakit tersebut disebabkan oleh
parasit insekta yang sangat kecil (Sarvoptes scabies) dan dapat menular pada
orang lain.
5.
Eksim.
Eksim merupakan penyakit kulit yang akut atau kronis. Penyakit tersebut
menyebabkan kulit menjadi kering, kemerah-merahan, gatal-gatal, dan bersisik.
6.
Biang
keringat. Biang keringat terjadi karena kelenjar keringat tersumbat oleh
sel-sel kulit mati yang tidak dapat terbuang secara sempurna. Keringat yang
terperangkap tersebut menyebabkan timbulnya bintik-bintik kemerahan yang
disertai gatal. Daki, debu, dan kosmetik juga dapat menyebabkan biang keringat.
2.4. Indera
Pengecap (Lidah) (Anonymus. 2012)
Lidah adalah kumpulan otot rangka
pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan.
Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap.
Menggunakan lidah, kita dapat membedakan bermacam-macam rasa. Lidah juga turut membantu dalam
tindakan bicara
Permukaan atas lidah
penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga
macam bentuk, yaitu bentuk benang, bentuk dataran yang dikelilingi parit-parit,
dan bentuk jamur. Tunas pengecap terdapat pada parit-parit papila bentuk
dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan di permukaan papila
berbentuk benang.
a.
Bagian-bagian lidah
Sebagian besar lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang hyoideus, tulang rahang
bawah
dan processus
styloideus di tulang pelipis. Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan
intrinsik. Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang
disebut papila. Terdapat tiga jenis papila yaitu:
1.
Papila filiformis berbentuk seperti benang halus.
2.
Papila sirkumvalata berbentuk bulat, tersusun seperti huruf V di
belakang lidah.
Tunas pengecap adalah bagian pengecap yang ada di pinggir
papila, terdiri dari dua sel yaitu sel penyokong dan sel pengecap. Sel pengecap
berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel penyokong berfungsi untuk menopang.
Bagian-bagian lidah:
1.
Bagian depan lidah, fungsinya untuk mengecap rasa manis.
2.
Bagian pinggir lidah, fungsinya untuk mengecap rasa asin dan asam.
3.
Bagian belakang/pangkal, fungsinya untuk mengecap rasa pahit.
Lidah memiliki kelenjar ludah, yang
menghasilkan air ludah dan enzim amilase (ptialin). Enzim ini berfungsi
mengubah zat tepung (amilum) menjadi zat gula. Letak kelenjar ludah yaitu:
kelenjar ludah atas terdapat di belakang telinga, dan kelenjar ludah bawah
terdapat di bagian bawah lidah.
b.
Cara Kerja Lidah
Makanan atau
minuman yang telah
berupa larutan di dalam mulut akan merangsang ujung-ujung saraf pengecap. Oleh saraf
pengecap, rangsangan rasa ini diteruskan ke pusat saraf pengecap di otak.
Selanjutnya, otak menanggapi rangsang tersebut sehingga kita dapat merasakan
rasa suatu jenis makanan atau
minuman.
c.
Kelaianan pada lidah
1.
Oral candidosis.
Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans.. gejalanya yaitu lidah
akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok.
2.
Atropic glossitis. Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik
seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering
biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak ditemukan pada penderita
anemia.
3.
Geografic tongue. Gejalanya yaitu lidah seperti peta,
berpulau-pulau. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin dan bila parah
akan dikelilingi pita putih tebal.
4.
Fissured tongue. Gejalanya yaitu lidah akan terlihat
pecah-pecah.
5.
Glossopyrosis. Kelainan ini berupa keluhan pada lidah
dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala
apapun dalam pemeriksaan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena psikosomatis
dibandingkan dengan kelainan pada syaraf.
2.3. Indera Pembau (Hidung) (Anonymus.
2012)
Saat manusia baru lahir indera penciumannya
lebih kuat dari manusia dewasa, karena dengan indera ini bayi dapat mengenali
ibunya. Indera penciuman manusia dapat mendeteksi 2000 - 4000 bau yang berbeda.
Indera pembau manusia
berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan
lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap.
Gambar Struktur
indera pembau
a.
Bagian-bagian hidung
Hidung manusia di bagi menjadi dua
bagian rongga yang sama besar yang di sebut dengan nostril.
Dinding pemisah di sebut dengan septum, septum terbuat dari tulang yang sangat
tipis. Rongga hidung di lapisi dengan rambut dan membran yang mensekresi lendir
lengket.
1.
Rongga hidung (nasal cavity) berfungsi untuk mengalirkan udara
dari luar ke tenggorokan menuju paru paru. Rongga hidung ini di hubungkan
dengan bagian belakang tenggorokan. Rongga hidung di pisahkan oleh
langit-langit mulut kita yang di sebut dengan palate. Di
rongga hidung bagian atas terdapat sel-sel reseptor atau ujung- ujung saraf pembau. Ujung-ujung saraf pembau ini timbul bersama dengan
rambut-rambut halus pada selaput lendir yang berada di dalam rongga hidung bagian atas. dapat
membau dengan baik.
2.
Mucous membrane, berfungsi menghangatkan
udara dan melembabkannya. Bagian ini membuat mucus (lendir atau ingus) yang
berguna untuk menangkap debu, bakteri, dan partikel-partikel kecil lainnya yang
dapat merusak paru-paru.
b.
Cara kerja hidung
Indera
penciuman mendeteksi zat yang melepaskan molekul-molekul di udara. Di atap
rongga hidung terdapat olfactory
epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau, karena
pada bagian ini ada bagian pendeteksi bau (smell
receptors). Reseptor ini
jumlahnya sangat banyak ada sekitar 10 juta. Ketika partikel bau tertangkap
oleh reseptor, sinyal akan di kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang
mengirim sinyal ke otak dan kemudian di proses oleh otak, bau apakah yang telah
tercium oleh hidung kita, apakah itu harumnya bau sate padang atau menyengat
nya bau selokan.
c.
Kelainan pada hidung
Sebagai indra
pembau, hidung
dapat mengalami gangguan. Akibatnya, kepekaan hidung menjadi berkurang atau bahkan tidak dapat mencium
bau suatu benda.
Kelainan-kelainan pada hidung yaitu:
1.
Angiofibroma Juvenil, adalah tumor jinak pada hidung bagian
belakang atau tenggorokan bagian atas (nasofaring), yang mengandung pembuluh
darah. Tumor ini paling sering ditemukan pada anak-anak laki yang sedang
mengalami masa puber.
2.
Papiloma Juvenil, adalah tumor jinak pada kotak suara
(laring). Papiloma disebabkan oleh virus. Papiloma bisa ditemukan pada anak
usia 1 tahun. Papiloma bisa menyebabkan suara serak, kadang cukup berat
sehingga anak tidak dapat berbicara dan bisa menyumbat saluran udara.
3.
Rhinitis Allergica, adalah peradangan hidung karena alergi.
Disebabkan oleh adanya reaksi alergi pada hidung yang ditimbulkan oleh masuknya
substansi asing ke dalam saluran tenggorokan.
4.
Sinusitis, merupakan peradangan sinus, yaitu
rongga-rongga dalam tulang yang berhubungan dengan rongga hidung, yang gawat
dan biasanya terjadi dalam waktu menahun (kronis).
5.
Salesma dan
influenza, merupakan infeksi pada alat pernapasan yang disebabkan oleh virus, dan umumnya dapat menyebabkan batuk, pilek,
sakit leher dan kadang-kadang panas atau sakit pada persendian.
6.
Anosmia, adalah gangguan pada hidung berupa
kehilangan kemampuan untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena beberapa
hal, misalnya cidera atau infeksi di dasar kepala, keracunan timbel, kebanyakan
merokok, atau tumor otak bagian depan. Untuk mengatasi gangguan ini harus
diketahui dulu penyebabnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Mata mempunyai reseptor
khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut
mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata,
kotak mata, kelopak, dan bulu mata. Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama
dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa. Ada berbagai macam
kelainan pada mata, seperti: presbiopi, hipermetropi, miopi, astigmatisma, katarak,
imeralopi, xeroftalxni, keratomealasi, dan lain sebagainya.
Telinga mempunyai
reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan tubuh. Ada
tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga
tengah, dan telinga dalam. Ada berbagai kelainan pada telinga, seperti: tuli,
congek, otitis eksterna, perikondritis, eksim, cidera, tumor, kanker, dan lain
sebagainya.
Kulit merupakan indra
peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan
tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan
dalam yang disebut lapisan dermis. Kelainan-kelainan yang ada pada kulit yaitu:
jerawat, panu, kadas, skabies, eksim, biang keringat, dan lain sebagainya.
Lidah mempunyai reseptor
khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Permukaan lidah dilapisi dengan
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap
berupa tunas pengecap. Lidah berfungsi sebagai pengecap rasa dan sebagai
pembantu dalam tindakan berbicara. Kelainan yang ada pada lidah yaitu: oral
candidosis, atropic glossitis, geografic tongue, fissured tongue,
glossopyrosis, dan lain sebagainya.
Indra pembau berupa
kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir
bagian atas. Kelainan-kelainan yang ada pada hidung yaitu: angiofibroma
juvenil, papiloma juvenil, rhinitis allergica, sinusitis, salesma dan
influensa, anosmia, dan lain sebagainya.
V.2 Saran
Pada
sistem indra ditemukan berbagai macam gangguan dan kelainan, baik karena bawaan
maupun karena faktor luar, seperti virus atau kesalahan mengkonsumsi makanan. Untuk itu
jagalah kesehatan anda agar selalu dapat beraktivitas dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. A. 1995. Kamus
Lengkap Kedokteran. Citas Media Pers. Surabaya
Andi. S. 1994. Struktur
Dan Fungsi Tubuh Manusia. Citas
Media Pers. Surabaya
Charles. R. 1996. Human Anatomi Phisiologi. PTGramedia.
Semarang
Deel. P. 2011. Kamus Lengkap Kedokteran. Citas Media
Pers. Surabaya
Anonymus.
2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. UPI:
Bandung
Anonim, 2010. Alat indera pada
manusia 9.1. http://www.crayonpedia.org/mw/Alat_Indra_Pada_Manusia_9.1, (online), diakses tanggal 04 Juni 2010.
Anonim, 2010. Bagian-bagian mata.
http://articles.myhardisk.com/2009/08/bagian-bagian-mata.html, (online), diakses tanggal 04 Juni 2010.
Anonim, 2010. Biologi kelas 2
indera pengelihat. http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0087%20Bio%202-10a.htm, (online), diakses tanggal 04 Juni 2010.
Anonim, 2010. Kelainan dan penyakit pada
kulit. http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/08/kelainan-dan-penyakit-pada-kulit.html, (online) diakses tanggal 04 Juni 2010.
Anonim, 2010. Kelainan pada telinga luar. http://medicastore.com/penyakit/360/Kelainan_Pada_Telinga_Luar.html, (online),
diakses tanggal 04 Juni 2010.
Nurcahyo, 2010. Kelainan telinga,
hidung, tenggorokan. http://www.indonesiaindonesia.com/f/12853-kelainan-telinga-hidung-tenggorokan/, (online), diakses tanggal 04 Juni 2010.
Anonim, 2010. Penyakit-penyakit
pada lidah. http://www.untukku.com/artikel-untukku/penyakit-penyakit-pada-lidah-untukku.html, (online), diakses tanggal 04 Juni 2010.

Komentar
Posting Komentar